Materi Penyuluhan

PENGEMBANGAN FOOD ESTATE BERBASIS KORPORASI PETANI

Jum'at, 07 Jan 2022
Sumber Gambar : Konsep pengembangan Food Estate berbasis korporasi petani

Food estate merupakan suatu daerah yang ditetapkan sebagai lumbung pangan baru di Indonesia. Adapun lumbung pangan baru ini juga menjadi bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) tahun 2020 hingga 2024. Pengembangan food estate adalah suatu bentuk usaha pertanian skala besar yang berbasis klaster dan multikomoditas (tanaman pangan, hortikultura, ternak, perkebunan) yang dikembangkan dalam suatu sistem rantai nilai produksi yang terintegrasi hulu-hilir dengan mengembangkan inovasi teknologi modern, hilirisasi produk pertanian serta sistem digitalisasi, dan menumbuhkan korporasi petani. Konsep dasar food estate merupakan keterpaduan sektor dan subsektor dalam suatu sistem rantai nilai produksi pangan yang berskala luas pada suatu kawasan pertanian.  Tujuan dari pengembangan food estate adalah (a) Meningkatkan produksi pangan dan kesejahteraan masyarakat; (b) Menghemat dan menghasilkan devisa negara; (c) Mempercepat pemerataan pembangunan; (d) Menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha; dan (e) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah dan perekonomian nasional. Pendekatan pemberdayaan masyarakat lokal dan pengembangan perekonomian lokal dilakukan dengan keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan food estate melalui kemitraan antara masyarakat lokal dengan investor yang mengedepankan prinsip berkembang bersama sebagai kesatuan mitra pembangunan dan mitra usaha dengan tetap memperhatikan kearifan lokal. Kemitraan usaha pertanian adalah kerja sama usaha antara perusahaan mitra dengan kelompok mitra di bidang usaha pertanian. Perusahaan mitra adalah perusahaan pertanian atau perusahaan bidang pertanian, baik swasta, BUMN maupun BUMD yang melakukan kerja sama dengan kelompok mitra. Adapun perusahaan pertanian adalah perusahaan yang mendapatkan izin dari aparatur sektor pertanian.

Kemitraan usaha bertujuan meningkatkan pendapatan, keseimbangan usaha, meningkatkan kualitas sumber daya kelompok mitra, peningkatan skala usaha, dalam rangka menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha kelompok mitra yang mandiri.

 

Korporasi dibentuk dengan menggabungkan beberapa klaster usahatani. Tahap awal dilakukan penguatan kelembagaan petani mulai dari kelompok tani (Poktan), gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan Gapoktan Bersama. Kelembagaan petani didorong untuk bekerjasama dalam mengelola usahatani di food estate. Setelah kelembagaan petani tertata dengan baik, lalu dilakukan upaya penerapan teknologi modern mulai dari menggunakan benih/bibit yang berkualitas, mekanisasi, perbaikan tata air (primer, sekunder, tersier) serta hilirisasi produk mulai pasca panen dan pengolahan hasil pertanian. Dalam penumbuhan korporasi petani perlu dilakukan kerjasama dengan mitra strategis seperti dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perusahaan daerah, atau swasta dalam melengkapi alat pengolahan hasil pertanian yang memiliki kapasitas lebih besar.  Pengembangan food estate didukung penuh oleh implementasi peran KOSTRATANI dalam pengawalan dan pendampingan kepada petani, pihak asuransi untuk melindungi petani dari kegagalan panen, akses pembiayaan dari bank seperti KUR, sertifikasi produk dan tenaga kerja oleh lembaga sertifikasi, serta regulasi yang mendukung terhadap berjalannya korporasi petani baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Pemasaran produk hasil food estate dapat dilakukan melalui market place, baik off line maupun on line, ecommerce, dan ekspor. Produk yang dipasarkan sebagian besar berupa olahan yang dapat memberikan nilai tambah signifikan bagi petani.

(Purnomojati Anggoroseto, SP, MSi/Penyuluh Pertanian Ahli Muda)

PENGUNJUNG

53895

HARI INI

73870

KEMARIN

50759527

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook