Materi Lokalita
> >

Sistem Tanam Juring Ganda Pada Tebu

Jum'at, 31 Des 2021
Sumber Gambar : kabartani.com

Jika pada tanaman padi dikenal dengan sistim tanam jajar legowo, di tebu ada teknologi juring ganda yang pada prinsipnya adalah penataan tanaman dalam barisan sedemikian rupa sehingga populasi tanaman meningkat, dan memberikan tata ruang dan lingkungan tumbuh yang memungkinkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Peningkatan populasi tanaman dapat mencapai 40-45 persen dibandingkan dengan teknik tanam konvensional yang dilakukan sebelumnya (juring tunggal).

Tata tanam juring ganda merupakan pengembangan dari tata tanam juring tunggal yang juring terdekat ditarik mendekati juring di sampingnya sehingga membentuk juring ganda. Dengan demikian faktor juring pada tata tanam juring ganda sama dengan faktor juring pada tata tanam juring tunggal. Keuntungan menggunakan tata tanam juring ganda adalah mampu meningkatkan penetrasi cahaya dalam tajuk tanaman dan meningkatkan ketersediaan lahan. Tata tanam juring ganda lebih sesuai dan efisien digunakan untuk upaya menyimpan air dan mengurangi genangan. Oleh karena itu sangat sesuai untuk pengembangan tebu di lahan kering dan lahan basah.

Tata tanam yang umum digunakan oleh dalam pengembangan tebu adalah juring tunggal dengan PKP (jarak antar juring atau pusat ke pusat) dan manajemen nutrisi yang bervariasi. Tata tanam juring tunggal tersebut tidak dapat menghasilkan produksi hablur sesuai harapan. Oleh karena itu dalam pengembangan tanaman tebu dikenalkan tata tanam juring ganda. Secara matematis tata tanam juring ganda yang dikenalkan hanya meningkatkan populasi benih sebanyak 40% dari tata tanam juring tunggalnya sehingga produksi hablur yang akan diperoleh meningkat tidak Iebih dari 40%.

Dengan meningkatnya populasi tanaman dan Iingkungan tumbuh yang Iebih baik diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tebu yang Iebih tinggi. Hasil penelitian di Kebun Percobaan Muktiharjo Pati, Jawa Tengah membuktikan, sistim juring ganda mampu meningkatkan produktivitas tebu antara 30-60 persen. Jika produktivitas tebu sebelumnya hanya mampu menghasilkan 70-90 ton/ha, kini setelah menerapkan teknologi juring ganda produksinya bisa mencapai 135-150 ton/ha.

Secara teknis sistem tanam juring ganda tidak berbeda dengan juring tunggal, yang membedakan adalah adanya perbedaan jarak tanam dan modifikasi letak alur/barisan tanaman. Pada sistem juring ganda alur/barisan tebu atau jarak Pusat ke Pusat (PKP) dalam barisan lebih rapat (50 cm), jarak PKP antar barisan Iebih lebar (135, 170, 210 cm).

 

Sumber Materi : Jajar Legowo pada Pertanaman Tebu melalui Sistem Tanam Juring Ganda (Double Row), BPTP Jateng, 2017.

(Tunggul D., Penyuluh Pertanian Distanbun Prov. Jateng)

PENGUNJUNG

52514

HARI INI

73870

KEMARIN

50758146

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook