Diseminasi Teknologi

BUDIDAYA BAWANG MERAH DI LUAR MUSIM (OFF SEASON)

Kamis, 30 Des 2021
Sumber Gambar :

BUDIDAYA BAWANG MERAH DI LUAR MUSIM (OFF SEASON)

 

Bawang merah merupakan komoditas hortikultura yang harganya tidak stabil, mahal saat ketersediaanya rendah, namun saat panen raya harganya menurun tajam. Bawang merah biasanya ditanam sesuai musim dengan produktivitas tinggi karena kemungkinan serangan hama penyakit terbatas.  Namun karena harganya jatuh saat panen raya,maka petani melakukan penanaman diluar musim (off season). Produksi bawang merah di luar musim dapat meningkatkan penghasilan jika dilakukan dengan menggunakan teknologi yang tepat, tetapi jika salah menerapkannya maka pertanaman bisa hancur karena tingkat serangan hama penyakit yang tinggi jika ditanam diluar musim.

Budi daya bawang merah biasanya dilakukan pada musim kemarau. Jika dilakukan pada musim hujan atau off-season maka akan memiliki risiko tinggi. Tantangan dan kendala yang dihadapi dalam budi dayanya semakin banyak. Serangan hama penyakit tanaman akan meningkat dan dapat menggagalkan panen. Inovasi teknologi diperlukan agar usaha tani bawang merah off-season dapat berhasil dengan baik.

Keberhasilan usaha tani bawang merah pada musim hujan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain penerapan inovasi teknologi budi daya. Teknologi budi daya yang dibutuhkan antara lain penggunaan varietas yang sesuai, pengolahan lahan yang tepat, pemeliharaan tanaman yang intensif, serta penanganan pascapanen. Faktor yang perlu diperhatikan sejak awal adalah pengendalian hama penyakit tanaman.

Varietas bawang merah yang sesuai untuk dikembangkan untuk budi daya off season masih terbatas. Varietas yang digunakan adalah varietas yang tahan terhadap serangan penyakit utama (Alternaria sp. dan Anthracnose) saat musim hujan. Varietas bawang merah yang disarankan untuk diusahakan pada musim hujan dengan penerapan teknologi yang memadai, di antaranya varietas Sembrani, Bima, Trisula, Pancasona, Pikatan, dan Maja.

Budi daya bawang merah off-season sebaiknya dilakukan di lahan kering atau lahan tegalan yang terbuka dan tidak terlindung oleh pohon. Tanaman bawang menghendaki cahaya dan penyinaran langsung. Pengolahan tanah untuk budi daya bawang merah dapat dilakukan secara manual menggunakan cangkul atau traktor.  Pembuatan bedengan tanam dengan lebar 1,0–1,2 m dan panjang disesuaikan dengan keadaan lahan. Jarak antar bedengan adalah 20–30 cm dan tinggi 20–30 cm. Setelah pengolahan pertama, bedengan tanam dibentuk dan tanahnya diolah kembali sampai rata dan rapi. Tanah didiamkan beberapa hari sambil menunggu dilakukan pemupukan dasar dan juga benih bawang merah siap untuk ditanam. Jika lahan yang digunakan adalah  lahan masam dengan pH < 6 maka dianjurkan untuk diberikan kapur pertanian/dolomit dengan dosis sekitar 1,5 ton/ha (untukpH 5,5). Kapur diberikan saat pengolahan tanah, minimal 2 minggu sebelum bawang merah ditanam. Setelah bedengan diolah dan rapi, berikan pupuk dasar (organik dan NPK) yang ditabur dan diaduk secara merata di atas bedengan. Pupuk dasar yang dianjurkan pada usaha tani bawang merah off-season di lahan kering adalah pupuk kandang atau kompos. Dosis pupuk kandang sapi 10–15 ton/ha, sementara kotoran ayam 5–6 ton/ha atau dengan kompos 2–3 ton/ha. Dosis pupuk NPK (15-15-15) atau ponska sebanyak 500–600 kg/ ha ditambah pupuk fosfat asal TSP atau SP-36 sebanyak 150–200 kg/ha. Merapikan bedengan Pupuk dasar dan kapur atau dolomit diberikan pada saat pengolahan tanah kedua. Pupuk organik dan fosfat diberikan setelah pemberian pupuk dasar. Saat pemberian pupuk organik dapat pula diaplikasikan pupuk hayati. Penggunaan mikroba Trichoderma sp. isolat tertentu efektif untuk sayuran/bawang merah dan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia. Setelah pemupukan, bedengan sebaiknya didiamkan sekitar 1–3 hari sebelum tanam.

Sebaiknya bedengan ditutup dengan mulsa untuk mengurangi biaya penyiangan dan menjaga kelembaban tanah. Umumnya petani menggunakan mulsa yang terbuat dari plastik warna perak di permukaan atasnya. Mulsa dipasang dengan cara dijepit dengan tusukan bambu agar menutup bedengan dengan baik dan rapi. Untuk membuat lubang tanam pada bedengan yang telah ditutup mulsa plastik, digunakan alat pembolong dari kaleng yang telah diberi arang panas. Alat ini dapat dibeli di toko pertanian atau dibuat sendiri. Panas dari arang dapat melubangi mulsa plastik dengan mudah. Jarak lubang tanam disesuaikan dengan jarak tanam bawang merah, yaitu 15 cm × 20 cm untuk umbi benih yang agak besar atau 15 cm × 15 cm untuk yang kecil.

Benih bawang merah yang akan ditanam adalah benih yang sudah disimpan sekitar 2,5–4 bulan dengan daya tumbuh mencapai 80–90%. Pilih umbi dalam kondisi segar, kekar, tidak cacat, serta bebas hama dan penyakit serta ukurannya hampir sama agar pertumbuhannya seragam. Rompes dan potong ujung umbi untuk mempercepat pertumbuhan tunas umbi benih. Selanjutnya dilakukan pemberian fungisida yang diaduk dengan benih dan dibiarkan beberapa jam atau semalam sebelum ditanam. Penanaman bawang berah cukup satu umbi untuk setiap lubang. Umbi bawang merah dibenamkan langsung sehingga rata dengan permukaan tanah.

Pemupukan lanjutan dilakukan dua kali, yaitu pertama pada umur 10–15 hari setelah tanam (hst) dan kedua pada umur 30 hst. Dosis pemupukan lanjutan adalah urea 50–75 kg/ha, ZA 100–175 kg/ha, dan KCl 75–100 kg/ ha. Untuk memperbaiki kondisi tanaman, pupuk tambahan yaitu pupuk majemuk NPK Mutiara atau hidrokompleks dapat diberikan bersamaan dengan pemupukan susulan kedua dengan dosis 25–50 kg/ha.

Penyiangan gulma dilakukan sesuai intensitas pertumbuhan gulma di lapangan. Penyiangan biasanya dilakukan satu hingga dua kali. Penyiangan dilakukan  sebelum aplikasi pemupukan kedua, yaitu pada umur 30 hst. Penyiangan dilakukan secara manual terhadap gulma yang tumbuh pada lubang tanam maupun pada parit bedengan.

Hujan yang turun dan kondisi lembap memicu serangan hama dan penyakit. Air dari percikan hujan yang menempel ke daun merupakan kondisi ideal terjadinya serangan penyakit utama bawang merah, seperti antraknosa, layu fusarium, dan bercak daun. Lakukan penyemprotan air setiap pagi untuk membersihkan percikan air hujan tersebut. Penyemprotan ini dapat menghilangkan embun tepung yang menempel pada ujung daun. Beberapa tindakan perlu dilakukan bila muncul gejala atau serangan penyakit bercak ungu atau trotol, layu fusarium, dan antraknosa.  Apabila tingkat kerusakan daun telah melampaui ambang pengendalian maka tanaman perlu disemprot dengan fungisida. Jika pada siang hari turun hujan rintik-rintik maka setelah hujan reda lakukan penyiraman untuk mencuci sisa-sisa air hujan dan percikan tanah yang menempel pada daun.  Jika dijumpai ada tanaman yang terserang penyakit layu fusarium, segera cabut dan musnahkan agar serangannya tidak meluas. Apabila ditemukan gejala penyakit antraknosa maka tanaman yang terserang dicabut dan dimusnahkan. Jika kerusakan tanaman telah mencapai ambang pengendalian, lakukan penyemprotan menggunakan fungisida. Hama yang sering menyerang tanaman bawang merah adalah ulat bawang atau ulat pemakan daun dan trips. Jika telur dan gejala serangan hama pada daun masih rendah/sedikit, petik daun yang terserang, kumpulkan, dan musnahkan. Jika jumlah telur atau kerusakan tanaman telah mencapai batas ambang pengendalian, semprot tanaman dengan insektisida yang dilarutkan dengan air bersih dengan pH air < 5. Gunakan sprayer kipas untuk menghasilkan butiran semprot yang halus. Pengendalian serangan hama trips dilakukan sesuai dengan ambang kendalinya, dengan penyemprotan insektisida. Penyemprotan insektisida dianjurkan pada sore hari karena hama tanaman aktif sore hingga malam hari.

Beberapa ciri fisik tanaman bawang merah yang siap dipanen adalah lebih dari 70% daunnya sudah agak kuning, pangkal daunnya sudah lemas/kempes, umbi bawang sudah muncul di permukaan tanah dan berwarna merah, serta sebagian besar tanaman sudah rebah. Di dataran tinggi atau lebih dari 1.000 m dpl, bawang merah mulai menua dan dapat dipanen sekitar umur 70 hari. Tanaman dipanen dengan cara dicabut pangkal daunnya, umbinya dibersihkan dari tanah yang menempel, kemudian diletakkan di atas bedengan, dikumpulkan, dan diangkut ke tempat penjemuran.

Pengeringan bawang merah dilakukan dengan penjemuran secara bertahap. Jemur bagian daun terlebih dahulu selama 3–7 hari. Jaga agar umbi bawang tidak terkena sinar matahari langsung. Lakukan pembalikan setiap 2–3 hari sampai susut bobot umbi mencapai 25–40% dengan kadar air 80–84%. Untuk bawang merah konsumsi, potong daun dan akar sampai bersih, kemudian kemas menggunakan karung-karung jala yang berkapasitas 50–100 kg. Bila akan digunakan untuk benih, bersihkan dan sortir umbi yang sehat, kemudian diikat. Bawang hasil ikatan dijemur kembali hingga cukup kering (kering askip). Setelah itu, gantungkan pada rak-rak bambu di gudang penyimpanan. Suhu penyimpanan yang baik berkisar 30–33oC dengan kelembapan nisbi 65–70%

Sri Suryani M. Rambe

PENGUNJUNG

59053

HARI INI

73870

KEMARIN

50764685

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook