Materi Penyuluhan

RUMPUT SETARIA DAN KOLONJONO, PAKAN HIJAUAN TERNAK SAPI

Selasa, 22 Nov 2022
Sumber Gambar : www. google.com

Pakan merupakan faktor produksi utama dan menentukan sukses tidaknya usaha peternakan. Salah satu bahan pakan ternak yang sangat diperlukan dan besar manfaatnya bagi kehidupan dan kelangsungan populasi ternak khususnya sapi adalah Hijauan. Hijauan merupakan sumber pakan utama bagi ternak ruminansia, baik untuk hidup pokok, pertumbuhan, produksi dan reproduksinya karena hijauan mengandung zat-zat makanan yang dibutuhkan. Oleh karenanya perlu adanya jaminan ketersediaan hijauan dan pengolahan agar mencapai pertumbuhan ternak yang diinginkan. Produkvitas ternak sapi yang optimal dapat dicapai dengan peningkatan ketersediaan pakan hijauan yang cukup, baik kuantitas maupun kualitasnya. Namun demikian, ketersediaan pakan hijauan masih sangat terbatas. Penyebabnya, selain sedikitnya lahan yang tersedia untuk pengembangan hijauan, juga sebagian besar lahan yang tersedia untuk pengembangan hijauan merupakan lahan-lahan marginal, seperti lahan kering pada jenis tanah ultisol dengan tingkat kesuburan yang rendah.

Salah satu sumber pakan hijauan adalah rumput-rumputan. Berbagai jenis rumput yang dapat dimanfaatkan untuk pakan hijauan diantaranya adalah rumput setaria dan kolonjono . 

Rumput Setaria. Rumput setaria (Setaria sphacelata) adalah tanaman rumput tahunan yang dikenal juga dengan golden timothy. Keunggulan rumput setaria adalah bisa tumbuh dengan baik pada daerah hingga ketinggian 1.300 meter dpl, tahan terhadap kekeringan, mampu bertahan hidup di tempat yang agak tergenang air asalkan bukan rawa-rawa. Rumput setaria termasuk salah satu rumput yang bisa hidup sepanjang tahun. Ciri lain dari rumput ini adalah berdaun halus lebar dan lembut berwarna hijau gelap, berbatang lunak dengan warna keungu unguan, pangkal  batang pipih, pelepah daun pada pangkal batang tersusun seperti kipas. Sedangkan curah hujan yang cocok untuk mendukung pertumbuhannya berkisar antara 625-1.250 mm/tahun. Rumput ini mengandung protein kasar dengan kadar 13,09 persen, serat kasar (SK) 32,5 persen, Ekstra Eter (EE) 2,8 persen. Bahan ekstra tampa Nitrogen (BETN) 44,8 persen. Tingkat produksinya sangat dipengaruhi oleh umur pemotongannya. Rata-rata produksi hijauan ini sekitar 80-100 ton hektar per tahun.Ada 3 teknik penanaman rumput setaria ini, diantaranya yaitu dengan penyebaran benih, penanaman benih dalam garitan dan penanaman dengan sobekan rumpun. Penanaman rumput setaria dengan penyebaran benih dilakukan dengan cara menyebarkan benih-benih rumput setarian secara langsung di atas permukaan tanah lalu ditutup kembali dengan lapisan tanah yang tipis. Benih yang dibutuhkan dalam teknik penanaman ini yaitu sekitar 5-10 kg/hektar lahan.Pada penanaman benih rumput setaria dalam garitan, maka perlu dibuat garitan dengan kedalaman 2-3 cm terlebih dahulu. Setelah itu, benih-benih tadi disebar di dalam garitan lalu ditutup kembali memakai tanah. Jarak antara garitan yang ideal yaitu sekitar 50 cm. Sehingga perkiraan kebutuhan benih yaitu sekitar 2-3 kg/hektar.

Ciri morfologi dari rumput setaria: 1)Setaria tumbuh tegak dan berumpun lebat; 2)Batang tegak tidak memiliki bulu dan memiliki 5-6 buku-buku; 3)Batang pada rumput ini berwarna kemerahan; 4)Daunnya lunak dan lembut; dan 5)Pada bagian pelepah daun memiliki bentuk gepeng dan memanjang dengan warna hijau muda hingga tua.

Rumput Kolonjono. Memiliki nama lain Brachiaria mutica, Panicum muticum, Para grass, dan Buffalo grass. Rumput kolonjono berasal dari Afrika dan Amerika Selatan tropik, sekarang rumput ini tersebar sebagai makanan ternak didaerah tropik basah dan sub tropik. Rumput tumbuh paling baik pada tanah yang basah dan tahan terhadap genangan air, tetapi tumbuhnya terhambat pada musim kemarau. Rumput kolonjono dipergunakan sebagai rumput potongan untuk makanan ternak, hay atau disenggut ternak dan penggembalaan harus dilakukan secara rotasi, karena tidak taham penggembalaan berat. Rumput dapat dipotong tiap 6-8 minggu.

Rumput kolonjono tumbuh dengan baik di daerah dengan ketinggian yang tidak lebih dari 1.200 m diatas permukaan laut dengan curah hujan 1.000 mm. Ciri morfologi yang tampak pada rumput kolonjono yaitu sebagai berikut : 1)Tumbuhnya semi tegak sampai tegak; 2)Berumur panjang; 3)Membentuk hamparan lebat; 4Tinggi hamparan dapat mencapai 30-45 cm; 5)Rhizoma pendek; 6)Tinggi batang sekitar 30-200 cm; 7)Bentuk daun linear;8)Warna daun hijau gelap; dan 9)Bunga berwarna ungu.

Rumput ini dapat tumbuh dengan baik apabila ditanam bersama legum atau herba. Kandungan protein kasar pada rumput kolonjono yaitu sekitar 7% dan serat kasar sekitar 35%. Pembudidayaan rumput ini tergolong mudah karena sama saja dengan budidaya jenis rumput yang lain. Penanaman bisa dilakukan dengan cara stek yang ditanam di lahan yang sudah digemburkan dan diberi pupuk.

Umur panen pertama rumput ini yaitu sekitar 60 hari untuk siap di potong. Rumput ini jugadapat terus menerus tumbuh/dirotasi dengan tinggi pemotongan 20-30 cm, dapat dipanen dengan cara grazing atau sistem cut and carry. Panen yang dihasilkan mencapai 8-20 t/ha/tahun. Kelebihan rumput ini selain dapat untuk penggembalaan dan tumbuh dengan cepat, efektif juga dalam mengatasi erosi tanah pada daerah yang miring. Namun, tanaman yang dihasilkan dari pemanenan rumput ini tergolong rendah dibandingkan dengan jenis rumput gajah.

Demikian sekilas informasi tentang rumput setaria dan rumput kolonjono yang perlu diketahui, semoga bermanfaat (Inang Sariati).

Sumber informasi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Setaria

https://sinauternak.com/contoh-hijauan-pakan-ternak-populer-rumput-legum/#4_Rumput_Kolonjonohttps://www.ilmuternak.com/2015/11/karakteristik-rumput-kolonjono.html

PENGUNJUNG

24404

HARI INI

105217

KEMARIN

51369428

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook